 |
| Apartemen |
Sudah menjadi "pola baku" saat
penjualan mobil turun
sebesar 16,6 persen, maka akan diikuti oleh anjloknya penjualan
properti. Bahkan angka kejatuhan properti jauh lebih tinggi yakni
50 persen sebagaimana diakui Ketua DPP REI Eddy Hussy beberapa waktu lalu.
Kalau sudah begitu, bagaimana kemudian nasib sektor properti?
Bagi
pengembang, menurut CEO Leads Property Indonesia, Hendra Hartono,
strategi terbaik adalah tetap berproduksi. Dengan membangun, peluang
untuk
mendapatkan keuntungan akan terbuka lebar.
"Saat
ini di tengah kondisi perlambatan ekonomi, pembeli mungkin sedikit.
Tapi tahun mendatang, saat produk yang dipasarkan sudah terserap
sepertiga atau separuhnya, pengembang bisa mematok harga tinggi," ujar
Hendra kepada
Kompas.com, Ahad (5/7/2015).
Hendra
melanjutkan, pertimbangannya adalah pasar masih tetap ada, baik kelas
bawah, menengah, atas, bahkan kelas premium. Namun begitu, para
pengembang juga harus memperhatikan jumlah unit yang akan dibangun dan
dipasarkan. Membangun ribuan unit saat ini sama halnya dengan
bunuh diri. Apalagi jika kemudian yang membeli kebanyakan investor, itu
sudah dalam kondisi "alarm" atau patut diwaspadai. Pasalnya, jika
permintaan lebih banyak berasal dari investor boleh dikatakan merupakan
permintaan semu.
"Pada akhirnya harga akan tertekan karena pasar sekundernya tidak bergerak akibat dikuasai investor," ucap Hendra.
Oleh
karena itu, lanjut dia, bangun dan pasarkanlah properti dengan jumlah
unit yang sesuai kondisi saat ini. Duaratus unit untuk satu kompleks
apartemen sudah sangat memadai bagi pasar untuk menyerapnya.Sementara
bagi calon konsumen, kata Hendra, sekarang justru merupakan saat yang
tepat membeli properti. Alasannya, banyak pengembang yang menawarkan
gimmick pemasaran, diskon harga jual, dan kemudahan termin pembayaran. Contohnya saja PT Metropolitan Land Tbk (Metland). Menurut Direktur Metland, Amran Nukman, pihaknya memberikan
gimmick atau hadiah Lebaran kepada calon konsumen. Alih-alih menaikkan harga jual.
"Kami memberikan
voucher
Metland Card. Ini bisa dipakai beli elektronik, atau keperluan rumah
tangga di Mal Metropolitan atau Grand Metropolitan," buka Amran kepada
Kompas.com, Selasa (7/7/2015).
Amran
tak menampik, saat ini sulit menaikkan harga jual. Pasalnya, konsumen
tidak akan menampakkan minatnya membeli properti yang tengah dipasarkan.
Karena itulah, pihaknya memberikan
gimmick untuk calon konsumen.Namun,
tambah Amran, saat pengembang kesulitan menaikkan harga jual hingga
tiga bulan ke depan, justru menjadi momentum yang bagus buat calon
konsumen membeli properti.
Kelas mewah
Untuk kelas mewah, menurut Hendra, masih ada pasarnya yang didominasi
end user
atau pengguna akhir. Melambatnya ekonomi, bagi kalangan tajir ini tidak
terlalu berdampak. Kalau sudah suka dengan lokasi, denah, dan
spesifikasinya, mereka akan langsung membeli.
"Bahkan kalau
income-nya
dalam dollar AS atau dollar Singapura, mereka bisa membeli properti
premium yang banyak ditawarkan di Jakarta saat ini. Ada beberapa
pengembang yang menawarkan diskon 30 persen hingga 35 persen dari harga
penawaran. Ini sangat menarik," tandas Hendra.
Beberapa properti
premium yang saat ini memenuhi pasar Jakarta, antara lain Anandamaya
Tower, Langham Residences, Senopati Suites, Verde Apartment, Casa
Domaine, dan Thamrin Nine.
(sumber : kompas.com, selasa 7 Juli 2015))